Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
home arrow Article arrow Arsitektur arrow Perwujudan Struktural yang Elegan
Perwujudan Struktural yang Elegan PDF Print E-mail
Tuesday, 10 October 2006
ar1Titik tolak dari semua perancangan bangunan adalah pengolahan detail dan structural secara cermat. Dari hasil kedua pengolahan ini muncullah sebuah keunngulan teknologi pada masanya serta penjelajahan konsep arsitektur.

Hitam dan putih adalah warna utama bangunan yang dipilih arsitek untuk menguji kualitas refleksi cahaya terhadap material dinding. Upaya tersebut juga untuk menyiasati kelemahan material yang menyerap cahaya dengan penempatan pencahayaan dan pemilihan jenis lampu. Bangunan hotel yang diliput ini memiliki keunggulan arsitektural yang cukup mencolok. Patut juga ditelaah secara detail, bagaimana bangunan ini  mengalami berbagai tahapan perubahan bentuk, dari yang sebelumnya merupakan tipikal bangunan hotel tahun 70-an, menjadi sebuah sosok yang mewakili unsur modernitas, dalam susunan struktur dan “irama” fasada. Dari situlah titik tolak semua dimensi bangunan dalam pertemuan garis-garis yang rapi sekaligus dinamis.

ar2 Arsitek memanfaatkan bidang tapak yang lebar dan posisi bangunan yang setback sehingga mendapatkan jarak pandang yang baik dari lingkungan atau jalan untuk menampilkan secara maksimal fasada bangunan yang ekspresif. Disamping itu diperoleh jalur pedestrian yang memungkinkan dipakai oleh pengguna kursi roda yang telah ditata ulang sebagai kesinambungan antara bangunan dan lingkungan di sekitarnya.

Perhitungan “irama” pada bagian ini menempati porsi cukup tinggi, sebagai pembanding dari yang sebelumnya. Pada beberapa simpul-simpul bangunan, sistem strukturnya terlihat menyeruak seperti membentuk dimensi baru sehingga menjadikan bangunan tampak lebih elegan. 

ar3 Ternyata hal tersebut bukan bagian sebuah klimaks perancangan, tetapi merupakan sebuah paparan peragaan unik dari karakter bangunan yang sengaja diciptakan sebagai pembedaan. Arsitek memanfaatkan bidang tapak yang lebar dan posisi bangunan yang setback tadi sehingga mendapatkan jarak pandang yang baik dari lingkungan atau dari jalan. Dengan demikian fasada bangunan yang ekspresif tampak maksimal dan peragaan bentuk tadi membentuk kedalaman yang menarik, sehingga mirip sebagai sebuah penggabungan beberapa bangunan-bangunan. Mungkin itulah yang ingin dicapai oleh tim perancang sebagai upaya mencapai keseimbangan fungsi bangunan baru dan bangunan lama. Satu bagian dibuat lengkung, bagian lain dirancang kotak sedangkan lainnya merupakan unsur-unsur geometris yang terbentuk dinamis dan sengaja dijadikan “gimmick” bangunan.

ar4Pada bagian bangunan berbentuk kotak hitam, ia seolah menjadi penyangga dari seluruh “irama” serta perpanjangan bangunan. Hal lain adalah penempatan kolom-kolom dengan irama klasik namun dibuat lebih luwes dan semarak dengan bentuk yang pipih atau bentuk berbagai ukuran diameter lingkaran. Ada pula jendela-jendela berbentuk segitiga yang diatur dengan pengulangan yang unik. Lebih menarik lagi adalah adanya latar belakang tempelan bahan polos dan bersih pada dinding, sehingga bentuk jendela tampak manis dan berkarakter. Material yang dipakai merupakan hasil pabrik seperti kaca, marmer dan stainless steel yang dipadukan dengan aluminium dengan pertimbangan mudah perawatannya, berkilau, bersih dan tampak ringan. Yang jelas, sosok massanya cukup membuat kejutan baru bagi lingkungannya.

ar5 Disamping itu bila kita melihat lebih detail komposisinya, maka akan terlihat sebuah analogi bentuk lain seperti bentuk kapal layar, kapal pesiar, dan lokomotif. Bentuk yang direpresentasikan ini merupakan pencarian esensi elemen-elemen arsitektur mulai dari material sampai pada detail, juga dari skala bangunan sampai skala ruang. Hal lain yang patut pula dicatat bahwa, tim arsitekturnya bertindak memilah, membuang dan mengolah detail dan struktural yang sudah ada menjadi sebuah kekuatan karya pada serangkaian wujud struktural.

Yuli Andyono
 
< Prev   Next >