Titik tolak dari semua perancangan bangunan adalah
pengolahan detail dan structural secara cermat. Dari hasil kedua pengolahan ini
muncullah sebuah keunngulan teknologi pada masanya serta penjelajahan konsep
arsitektur.
Hitam dan putih adalah warna utama bangunan yang dipilih
arsitek untuk menguji kualitas refleksi cahaya terhadap material dinding. Upaya
tersebut juga untuk menyiasati kelemahan material yang menyerap cahaya dengan
penempatan pencahayaan dan pemilihan jenis lampu. Bangunan hotel yang diliput
ini memiliki keunggulan arsitektural yang cukup mencolok. Patut juga ditelaah
secara detail, bagaimana bangunan ini
mengalami berbagai tahapan perubahan bentuk, dari yang sebelumnya
merupakan tipikal bangunan hotel tahun 70-an, menjadi sebuah sosok yang
mewakili unsur modernitas, dalam susunan struktur dan “irama” fasada. Dari
situlah titik tolak semua dimensi bangunan dalam pertemuan garis-garis yang
rapi sekaligus dinamis.
Arsitek memanfaatkan bidang tapak yang lebar dan posisi
bangunan yang setback sehingga mendapatkan jarak pandang yang baik dari
lingkungan atau jalan untuk menampilkan secara maksimal fasada bangunan yang
ekspresif. Disamping itu diperoleh jalur pedestrian yang memungkinkan dipakai
oleh pengguna kursi roda yang telah ditata ulang sebagai kesinambungan antara
bangunan dan lingkungan di sekitarnya.
Perhitungan “irama” pada bagian ini menempati porsi cukup
tinggi, sebagai pembanding dari yang sebelumnya. Pada beberapa simpul-simpul
bangunan, sistem strukturnya terlihat menyeruak seperti membentuk dimensi baru sehingga
menjadikan bangunan tampak lebih elegan.
Ternyata hal tersebut bukan bagian sebuah klimaks
perancangan, tetapi merupakan sebuah paparan peragaan unik dari karakter
bangunan yang sengaja diciptakan sebagai pembedaan. Arsitek memanfaatkan bidang
tapak yang lebar dan posisi bangunan yang setback tadi sehingga mendapatkan
jarak pandang yang baik dari lingkungan atau dari jalan. Dengan demikian fasada
bangunan yang ekspresif tampak maksimal dan peragaan bentuk tadi membentuk
kedalaman yang menarik, sehingga mirip sebagai sebuah penggabungan beberapa bangunan-bangunan.
Mungkin itulah yang ingin dicapai oleh tim perancang sebagai upaya mencapai
keseimbangan fungsi bangunan baru dan bangunan lama. Satu bagian dibuat
lengkung, bagian lain dirancang kotak sedangkan lainnya merupakan unsur-unsur
geometris yang terbentuk dinamis dan sengaja dijadikan “gimmick” bangunan.
Pada bagian bangunan berbentuk kotak hitam, ia seolah
menjadi penyangga dari seluruh “irama” serta perpanjangan bangunan. Hal lain
adalah penempatan kolom-kolom dengan irama klasik namun dibuat lebih luwes dan
semarak dengan bentuk yang pipih atau bentuk berbagai ukuran diameter
lingkaran. Ada pula jendela-jendela berbentuk segitiga yang diatur dengan pengulangan
yang unik. Lebih menarik lagi adalah adanya latar belakang tempelan bahan polos
dan bersih pada dinding, sehingga bentuk jendela tampak manis dan berkarakter.
Material yang dipakai merupakan hasil pabrik seperti kaca,
marmer dan stainless steel yang dipadukan dengan aluminium dengan pertimbangan
mudah perawatannya, berkilau, bersih dan tampak ringan. Yang jelas, sosok
massanya cukup membuat kejutan baru bagi lingkungannya.
Disamping itu bila kita melihat lebih detail komposisinya,
maka akan terlihat sebuah analogi bentuk lain seperti bentuk kapal layar, kapal
pesiar, dan lokomotif. Bentuk yang direpresentasikan ini merupakan pencarian
esensi elemen-elemen arsitektur mulai dari material sampai pada detail, juga dari
skala bangunan sampai skala ruang. Hal lain yang patut pula dicatat bahwa, tim
arsitekturnya bertindak memilah, membuang dan mengolah detail dan struktural
yang sudah ada menjadi sebuah kekuatan karya pada serangkaian wujud struktural.
Yuli Andyono
|