|
Meraih Keakraban dengan Alam |
|
|
|
|
Friday, 10 November 2006 |
Bila rumah kayu yang merupakan modifikasi
bangunan Austronesia ini penuh dengan bukaan. Jendela dan pintu yang dapat
dibuka lebar serta dinding yang berkisi-kisi menjadi salah satu cara untuk dapat
akrab dengan alam.
Bangunan yang berada di kaki
gunung Arjuna ini merupakan salah satu dari berbagai vila yang berada didalam kampung
wisata pendidikan alam dan budaya Kaliandra di Jawa Timur. Komitmen terhadap
segala sesuatu yang serba ramah lingkungan menjadi acuan dasar konsep
pengembangan semua fasilitas dan kegiatan di dalam area wisata ini, termasuk
konsep pengembangan bangunan vila sebagai penunjang aktivitas wisata.
Arsitektur bangunan vila
merupakan modifikasi dari bangunan kayu berbentuk panggung yang merupakan ciri
dari rumah-rumah di wilayah Austronesia, yaitu wilayah kepulauan yang tersebar
di samudra Pasifik. Beberapa wilayah di pesisir
Indonesia Timur seperti Sulawesi Utara dan Maluku banyak menggunakan tipikal
bangunan seperti ini.
Modifikasi paling nyata yaitu
dengan memanfaatkan bagian dasar panggung yang biasanya hanya diperuntukkan
sebagai struktur kaki-kaki dan tangga kemudian diubah menjadi ruang-ruang
komunal yang fungsional. Bagian ini dioptimalkan fungsinya menjadi ruang duduk
keluarga yang didesain menyerupai amben supaya terasa lebih nyaman dan berfungsi
serba guna untuk menunjang aktivitas layaknya sebuah vila.
Hampir keseluruhan material
bangunan yang berukuran 4 x 6 m ini menggunakan material kayu. Beberapa jenis
kayu digunakan untuk menampilkan karakter dan disesuaikan dengan fungsinya.
Untuk struktur utama digunakan kayu merbabu sedangkan kayu meranti untuk
kuda-kuda dan usuk. Jendela dan pintu
menggunakan kayu kamper dan kayu jati
untuk bagian yang membutuhkan daya yang lebih kuat seperti railing tangga dan
balkon. Bidang dinding yang dibuat berkisi menggunakan kayu durian. Jenis kayu
ini juga digunakan sebagai penutup plafon di setiap lantai. Adapun penutup atap
digunakan kayu ulin yang tahan dengan perubahan cuaca dan dipotong tipis untuk
menghasilkan desain yang lebih ringan dan bagus. Sebagian bidang dinding
menggunakan bata ekspos terutama untuk area basah seperti kamar mandi. Semua kayu
dan bata di-finishing natural karena
itu hanya menggunakan bahan coating
transparan sehingga masih menampilkan karakteristik alaminya.
Cahaya dan udara diupayakan
dapat masuk dan mengalir ke dalam vila secara maksimal. Bukaan pintu dan jendela
saling berhadapan sehingga menjamin aliran udara mengalir lancar. Dinding yang
berdampingan dengan tangga sebagai area sirkulasi dibuat menyerupai kisi-kisi vertikal sehingga aliran
udara di dalam rumah menjadi lebih lancar.
Lantai atas yang diperuntukkan untuk kamar tidur
hampir setengah bidangnya merupakan jendela berkisi-kisi yang dapat dibuka
lebar sehingga pemandangan ke arah lembah dan perbukitan di sekitarnya menjadi
bagian dari konsep ruang-ruang dalamnya.
Ada dasarnya proyek ini berada
di atas tapak yang spesifik, sehingga perencanaan dan perancangan bangunan
melalui tahap penyesuaian dan penyeleksian terhadap komunitas-komunitas yang
ada. Dengan demikian, yang menjadi perhatian utama pada waktu proses
perancangan adalah kontrol bangunan terhadap iklim, temperatur, udara, matahari
serta berbagai sumber-sumber alami yang sudah ada sebelumnya.
Semua bagian dirancang dan
dikerjakan di Sulawesi Utara untuk selanjutnya dipasang di lapangan dengan
sistem built in. Antarsambungan pada konstruksi utama dibuat berongga
sehingga terdapat celah dan tidak masif. Dengan sistem mobile seperti ini diharapkan fondasi vila tahan terhadap
pergeseran permukaan tanah, yang merupakan hal paling sering ditemui di lokasi
yang berada di lereng gunung. Kesemuanya ini merupakan upaya untuk dapat beradaptasi
terhadap lingkungan. Namun, konsep seperti ini perlu diuji dalam menghadapi
bencana alam.
Viva Rahwidhiyasa
Fotografer : Ahkamul Hakim
Lokasi : Vila Yudistira -
Yayasan Kaliandra Sejati Pasuruan – Jawa Timur
Desainer : Bagoes S. Brotodiwirjo
Kontraktor Bangunan : James Wawengkang
|