“God is in the detail”, demikian ungkapan arsitek Jerman, Ludwig
Mies Van der Rohe (1886-1969) yang mengangkat isu on restraint in design, pada koran
New York Herald Tribune, 28 Juni 1959. Ungkapan tersebut sangat tepat untuk
mendeskripsikan konsep rumah di Bandung Selatan ini. Artinya, apapun yang Anda kerjakan, detail
adalah yang terpenting. Berarti, proyek sebesar apapun akan bergantung pada
kesuksesan komponen yang paling kecil.
Desain rumah yang diliput ini mencerminkan kiat sang arsitek
mewujudkan kesempurnaan dalam desain melalui detail elemen arsitekturnya secara
lugas dan terukur. Arsitek Alexander I. Santoso yang dikenal inovatif itu kini
tampil dengan detail desain arsitektur yang khas pada rumah seluas 500 m2 ini.
Detail dalam rumah ini tidak hanya menyangkut finishing
tetapi juga proses untuk menghasilkan kesempurnaan bentuk, interkoneksi serta
nuansa yang akan diangkat. Melalui proses ini muncul solusi dengan sentuhan
yang khas untuk mengolah wujud arsitektur
secara komplet serta interior yang lebih akrab.
Secara kasat mata rumah yang berlokasi di sudut jalan perumahan
elit di Bandung Selatan ini mempunyai tampak depan dengan bidang tembok yang
maju mundur mengikuti kontur ruang di dalamnya. Sasarannya adalah sebuah hunian
ekspresif melalui perpaduan berbagai jenis material. Permainan material menjadi
kiat sang arsitek untuk mengangkat konsep kontemporer modern pada tembok depan
yang terlihat menyerupai “kue lapis”, melalui perpaduan batu andesit dengan lapisan
kaca yang diselipkan di antara tarikan garis-garis nat. Efek yang dihasilkan
memberikan tampilan yang berbeda untuk sebuah rumah tinggal.
Jika eksteriorya terlihat ekspresif, interiornya justru elegan
mewujudkan konsep hunian yang homey, simpel, akrab serta berkelas. Pemiliknya
menginginkan interiornya yang lapang serta terbuka dan Alex memenuhinya dengan sebuah
void di ruangan keluarga. Awalnya void tersebut dibentuk dengan kolom seperti vila Mediteranian yang
eksklusif. Namun, rencana tersebut ditinggalkan lalu diganti desain yang lebih
simpel. Hasilnya ruangan terasa lebih lebar berkat struktur kolom yang melebar
serta atap yang melayang di bagian tengah, diapit skylight pada sisi kanan dan
kirinya. Untuk mengurangi teriknya matahari skylight tersebut diberi kisi-kisi
dengan kemiringan yang tepat sehingga ruangan di bawahnya terasa lebih nyaman.
Ruang keluarga ini mempunyai pandangan langsung ke berbagai
ruangan lainnya seperti ruangan makan dan pantry yang berada di lantai dasar
serta ruangan karaoke, tempat main anak, kamar tidur utama dan koridor ke kamar
tidur lainnya yang berada di lantai atas. Ruangan tengah yang “membuka”
tersebut adalah permintaan sang pemilik yang ingin memantau anak-anak jika
berada di rumah. Walaupun begitu bukaan-bukaan tersebut secara arsitektural mempermudah
cahaya memasuki ruangan-ruangan serta memberi efek dimensi ruang yang lebih luas selain
melapangkan visualisasi antar lantai.
Foyer juga didesain menjadi void yang lebih kecil sedangkan koridor
membaginya menjadi dua sisi ruangan, yaitu ruangan makan dan ruangan keluarga.
Di sini sebuah partisi kaca membagi lagi pandangan ke arah tangga yang menurut hong
shui harus ditempatkan berhadapan dengan pintu masuk. Tangga di balik partisi
kaca dan aluminium ini dibalut parket kayu dan diberi sentuhan spesial berupa step-closing
terbuat dari kayu sungkai. Alhasil detail seperti ini sanggup memperindah
suasana di area tangga tersebut. Selain itu lantai dasar dilapisi marmer berukuran
120 x 120 cm yang memberi tampilan eksklusif. Kusennya menggunakan kayu jati
sehingga serasi dengan daun pintu yang terbuat dari bahan yang sama.
Alex berkata, “Detail arsitektural rumah ini paling rumit
dibandingkan dengan rumah-rumah yang pernah saya kerjakan sebelumnya”. Hasilnya
terlihat bahwa desain dan finishing-nya menjadi
mewah yang berbeda dari rumah lainnya.
Yosi Wyoso
Fotografer: Sjahrial Iqbal
Lokasi: Bandung
Selatan
Arsitek (Principal): Alexander I. Santoso
Kontraktor: Yohanes Kurnialim
|