Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
home arrow Article arrow Arsitektur arrow Implementasi Dasar Arsitektur
Implementasi Dasar Arsitektur PDF Print E-mail
Tuesday, 30 January 2007
im1Pada intinya, pergerakan metode berkonsep arsitektur memiliki kecenderungan kembali ke dasar. Ketika modus eksperimental sudah kerap dilakoni arsitek, bukan tidak mungkin pendekatannya akan kembali ke dasar dan lebih sederhana.

Sejauh-jauhnya proses kreatif sang arsitek dalam perjalanan karyanya, pasti ada titik balik yang membuatnya kemudian  lebih menghargai nilai-nilai dasar. Sebab, proses eksperimen memerlukan uji coba, cek dan keseimbangan, mulai dari bahan, teknologi serta falsafah ruang dan bangunan. Jika tidak, eksperimen tinggallah cerita karena dapat menghilangkan aspek fungsional.

im2Pada proyek rumah tinggal karya arsitek Evan Davin Lee di kawasan Pantai Mutiara, Jakarta Utara ini, tecermin kepeduliannya terhadap sejarah sosial dan kondisi asli geografis lahan. Letak lahan yang diapit oleh laut dan perairan kanal, menggerakkan Evan kepada konsep arsitektur yang “rigid” dan adaptif terhadap angin, panas, dan kelembapan udara. Sebagai benteng terhadap ruang-ruang dalam, bagian kulit bangunan dibuat tebal, berlapis-lapis serta memaksimalkan ruang-ruang berongga. Sistem tarik ulur terhadap ketebalan dinding dan unsur transparan ini justru untuk menyikapi kondisi geografis lahan.

im3Bagian yang transparan dan terbuka, dikondisikan untuk ventilasi silang yang berguna untuk aliran udara angin laut. Angin laut bergerak dari bagian depan bangunan yang menghadap ke laut  menuju ke belakang bangunan yang menghadap ke perairan kanal. Pada saat-saat tertentu, angin laut berhembus cukup kencang yang membutuhkan dinding penahan yang solid diantara bukaan-bukaan dan dinding transparan. Oleh Evan dirancanglah permainan dinding fasada yang cukup beragam dan menyiratkan pembagian ruang-ruang dalamnya. Sebelum merencanakan pengaturan ruangan dalam, bangunan dinaikkan dua meter untuk mendapatkan lantai dasar. Titik nol lantai, difungsikan untuk garasi dan ruang-ruang servis. Dari pintu masuk menuju garasi terus terhubung ke bagian belakang bangunan yang menghadap kanal.

im4 Pada bagian belakang bangunan, pemilik menginginkan area yang terbuka ini difungsikan sebagai dek untuk tempat duduk-duduk santai yang cukup luas. Dek ini memiliki ketinggian sekitar 90cm – 1m di atas permukaan air kanal.  Dek ini juga berguna sebagai tempat menepi kapal motor pribadi yang dimiliki oleh sebagian besar penghuni kawasan ini. Sebagai tempat bersantai pribadi yang menerapkan desain yang ramah, Evan tidak lupa melengkapinya dengan air terjun yang mengalir pada dinding pembatas. Ketika malam tiba, dinding air terjun ini tampak indah diterangi cahaya temaram dari pencahayaan tidak langsung pada bagian atas dinding dan lampu sorot yang ditanam di bagian bawah.

Bagian depan bangunan didominasi dengan area transparan. Fungsinya untuk memaksimalkan bingkai pemandangan laut sebagai vista  ruangan dalam. Daerah ini dilengkapi dengan titik-titik lampu dan sistem pencahayaan utama yang mampu memberi “jiwa” pada keseluruhan bangunan.


Arsitektur Sebagai Fase Kehidupan dan Transisi


im5 Penerapannya bergantung pada beragam aktivitas penghuni pada setiap episode kehidupannya. Implementasinya berupa ruangan-ruangan yang lebar-lebar, menerus, dan menembus. Beberapa ruangan terlihat terlalu luas dan ada juga yang terlalu kecil bila dibandingkan dengan ruangan-ruangan lainnya. Namun lebih daripada itu, nilai fungsilah yang lebih berperan sehingga ruangan tamu, ruangan makan, dapur, ruangan duduk dan selasar di dalam bangunan memiliki dimensi ruang yang cukup besar dibandingkan dengan ruangan tamu misalnya. Ruangan tamu dirancang dengan ukuran sedang karena memang kebutuhannya tidak terlalu mendesak. Sebaliknya, ruangan penerima (foyer) di rumah tinggal ini ternyata cukup besar, mengikuti ruang-ruang lainnya.Dengan demikian fungsi utama ruangan penerima sebagai ruangan transisi, mengambil peran yang cukup penting sebagai bagian dari program ruang yang ideal.

Ruangan duduk untuk menonton televisi, ditempatkan di samping tangga bangunan. Letak ruangan ini sebenarnya berada di posisi koridor bangunan menuju bukaan samping, sehingga tampak semi publik meskipun tertutup akses publik ke bukaan samping. Pada intinya, sistem karya Evan untuk proyek rumah tinggal ini layak dijadikan acuan yang ideal. Konsepnya memungkinkan aktivitas yang lugas, leluasa dan terbuka terhadap perubahan pola penataan interior ruangan yang diterapkan dalam perancangan ruangan dan furnitur-furniturnya.

Yuli Andyono

Foto : Sjahrial Iqbal
Lokasi : Kediaman di Pantai Mutiara, Jakarta Utara
Arsitek, interior & kontraktor : Tim Davin Lee Architecture Consultant & Contractor

 
< Prev   Next >