Rumah tidak hanya menjadi tempat hunian yang memenuhi
kebutuhan pemiliknya tetapi juga dapat
mengangkat derajatnya dengan merefleksikan kepribadian pemilik. Dengan demikian mengakomodasi gaya hidup pemilik merupakan
aspek penting dalam perancangan sebuah hunian. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat kini sudah
semakin beragam dan kompleks, jauh dari sifat materialistik semata.
Desain sebuah rumah, baik wujud, proporsi struktur maupun
lahannya memerlukan pemikiran matang para profesional seperti arsitek atau
desainer interior agar keinginan pemilik rumah dapat diterjemahkan. Bahkan
tidak tertutup kemungkinan bahwa para profesional tersebut dapat mengubah
persepsi para pemilik tadi terhadap rumah tinggal. Apalagi desain arsitektur
dewasa ini sudah jauh berkembang dengan memberi dimensi baru terhadap sudut
pandang dan gagasan baru dalam penataan ruangan, antara lain dengan konsep “plan
as the generator”, yang kini memberi wujud baru arsitektur kontemporer di
Indonesia.
Karya hunian kontemporer yang dirancang Arsitek Rudy Kelana
di Jakarta Barat ini menyiratkat gaya hidup pemiliknya yang terbuka terhadap
gaya individualis kontemporer, yaitu hanya untuk dinikmati sendiri. Pengolahan
desainnya ditunjang struktur yang pas dan skala yang nyaman bagi bangunan
berwujud kotak di atas lahan berukuran 320 m2. Walaupun terlihat masif,
proporsinya tidak mengejutkan. Dengan
elemen yang tegas dan simpel serta proporsi yang tidak berlebihan, wujud
kontemporer rumah berbentuk kotak persegi ini menyerupai sebuah kantor daripada
sebuah rumah sehingga membuat penasaran siapa saja yang melewatinya.
Berlokasi di sudut jalan perumahan elit di kawasan Jakarta
Barat, rumah ini mempunyai dua muka. Tampak depannya hampir tertutup semua
sementara bagian sampingnya berupa tembok ditutupi panel aluminium dan jendela
lebar yang bagian dalamnya terlihat dari luar. Gabungan desain dengan gaya
hidup pemilik rumah ini menuntut suatu karakter yang lebih personal sehingga
tampilan luar tidak terlalu diutamakan. Namun
saat memasuki ruangan utamanya, yaitu area keluarga, skala ruangan terasa
nyaman dan pas untuk berbagai kebutuhan pemilik dengan menerapkan struktur split
level yang dihubungkan oleh sarana sirkulasi vertikal.
Rumah ini menghadap ke kaveling kosong di seberang kali
samping rumah, yang dipenuhi penghijauan. Potensi visual ini dijadikan fokus
terutama di area tempat keluarga berkumpul yang sengaja dirancang mengikuti
pemikiran tersebut. Walaupun terlihat kaku, hunian ini tetap tegas mengimbangi
alam sekitarnya. Oleh karena itu tempat keluarga berkumpul tersebut diberi
bukaan jendela kaca dan pintu kaca sorong untuk memperoleh pemandangan ke arah
penghijauan tersebut, seolah-olah membawa kesejukan alam ke dalam rumah.
Pemilik memilih
sendiri perabot interiornya sesuai dengan karakter mereka dengan pertimbangan
aspek fungsi yang disarankan oleh sang arsitek. Kursi kontemporer dan
klasik modern memenuhi sudut-sudut ruangan di rumah ini sehingga nuansa
kontemporer terangkat. Ruangan utama yang mengintegrasikan tempat menonton TV,
tempat makan serta pantry kontemporer dengan warna putih bersih terangkat
menjadi ruangan santai dan formal sekaligus. Warna lantai marmer nero absoluto
tampak melatar-belakangi perabot kontemporer yang chic sementara tembok putih
menjadi bidang yang dominan sekaligus kontras terhadap warna lantai tersebut.
Bahan serat kayu pada bagian belakang lemari TV memberi
aksen natural yang mengimbangi keseluruhan interior yang kontras tersebut
sedangkan rak TV sengaja dibuat melayang sehingga menjadi aksen di tengah
nuansa kontemporer di atas. Tempat kerja di lantai atas juga terlihat dari
ruangan utama ini. Di lain pihak,
partisi dengan kaca tempered dan kaki model laba-laba berbahan baja tahan karat
turut memperkuat kesan modern pada hunian ini sekaligus mencerminkan keunikan
dan selera tinggi pemiliknya.
Jelaslah bahwa desain kontemporer pada rumah ini benar-benar
mencerminkan gaya hidup modern sebagaimana tersirat dalam interior dan
arsitekturnya yang serba kinclong dan rapi. Bahkan sang arsitek sendiri
berkata: “.....karakter pemilik serta gaya hidup mereka sangat menentukan
bagaimana wujud akhir rumahnya yang menjadi bagian dari identitas mereka.”
Penulis: Yosi Wyoso
Fotografer: Sjahrial Iqbal
Arsitek: Rudy Kelana dan tim PT. Wahana Cipta Selaras
|