Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
home arrow Article arrow Arsitektur arrow Hetero Arsitektur
Hetero Arsitektur PDF Print E-mail
Tuesday, 10 October 2006
a1Sebuah konsep hetero arsitektur (arsitektur yang berbeda) diperkenalkan oleh seorang arsitek Indonesia muda dan berbakat. Belum lama ini, ia dan rekan-rekan seprofesi serta rekan-rekan lintas profesi seperti para penata ruang, penata artistik, penata cahaya dan pakar animasi, musisi dan juga para seniman, berkolaborasi menggelar karya-karya eksperimental mereka yang menggugah komunitas Bandung bahkan gaungnya mencapai Jakarta.

Patut kita acungkan jempol upaya Sarah dan kawan-kawannya ini untuk mengkomunikasikan metode arsitektur melalui visualisasi yang mendorong sekaligus membatasi penggunaan teknologi mutakhir. Cara ini diterapkan sebagai uji coba pada proyek-proyek kawasan yang berupa konsep keruangan. Diantara presentasi proyek-proyek tersebut terlihat adanya upaya memadukan unsur-unsur kemanusiaan dan unsure sejarah budaya dalam suatu tindakan yang melompati batas-batas konvensional.

Dalam gelar karya tersebut, terlihat adanya sebuah tamasya arsitektur urban eksperimental yang bias dikatakan menjadi bagian pencerahan bagi para arsitek. Kegiatan ini termasuk upaya kreatif yang disertai energi tanpa batas dan bermodalkan imajinasi. Untuk pemahaman yang lebih intens, gagasan yang dicanangkan melibatkan unsur kesenian yang tinggi, dan melibatkan seluruh indrawi, melalui alat peraga video, sound performance, instalasi tapak dan tampilan objek-objek baik secara mikro maupun secara makro.

Objek yang dijadikan proyek eksperimental Sarah dan kawan-kawan, terbagi ke dalam tiga kaidah arsitektur yaitu arsitektur dalam kajian ruang, arsitektur dalam kajian massa dan arsitektur dalam kajian kawasan. Ketiganya membahas ruang sebagai sajian sosial budaya. Berikut paparan konsep proyek eksperimental yang diambil langsung dari sumbernya.

a4Arsitektur dalam kajian ruang ditampilkan dalam dua objek yang dinamakan PHANTASMAGORIA[3rd]dan DKCHINGonTELLY. PHANTASMAGORIA[3rd] adalah sebuah karya yang mengulas proses pemaknaan keberadaan ruang yaitu ketika intuisi pikiran mulai bergerak secara impulsif dan dipengaruhi a priori, sehingga ruang didefinisikan secara murni berupa skema batasan jarak Hasilnya seperti citra  (image) tiga dimensi yang membentuk proses penguraian komponen ruang, bidang, garis dan titik. Sebuah jaringan persepsi melalui pendekatan iconography inilah yang menghasilkan ruang dalam bentuk abstrak.

Objek kedua, DKCHINGonTELLY berupa film animasi bisu yang menggambarkan simbol-simbol  begerak hasil dari terjemahan teori arsitektur yang ditulis DK Ching pada bukunya yang berjudul Shape and Form. Teori tersebut menggambarkan bahwa pemaknaan atas ruang arsitektur berikut elemennya dipengaruhi persepsi pribadi. Padahal arsitektur tidak lain adalah sebuah “tata bahasa” yang bersifat universal. Oleh sebab itulah karya ini menerjemahkan teori arsitektur yang abstrak dalam adegan yang menggambarkan secara populer aktivitas sehari-hari. Keseharian manusia dilihat sebagai visualisasi pemahaman arsitektur. Animasi yang berdurasi lima menit ini ditampilkan dalam tiga layar yang masing-masing mewakili masyarakat tertentu dalam tiga golongan yaitu kelas atas, kelas menengah dan bawah. Secara grafis, karya ini menampilkan visualisasi karakter dalam golongan tersebut dalam tampilan dua dimensi wayang, distorsi skala dan teknik kolase.

Kemudian objek arsitektur yang dibahas dalam kajian massa, menampilkan proyek ALUN2BANDUNG:anENLIVENMENTdanVENICEHYDROMAGNETICSproject. Objek ALUN2BANDUNG:anENLIVENMENT, adalah a2sebuah proyek revitalisasi kawasan Bandung city centre yang diwujudkan melalui perancangan yang menawarkan ergonomi para pejalan kaki dan mempertinggi aksesibilitas kendaraan ke dalam kawasan. Proyek ini merupakan desain terminal, pusat perbelanjaan dan susunan lanskap alun-alun. Konsepnya bertujuan untuk menghidupkan kembali kenyamanan publik dalam aktivitas sosial mereka di ruang terbuka. Aktivitas yang beragam tersebut diupayakan terpadu antara posisi massa terhadap sumbu Utara-Selatan Alun-alun dan sumbu atau arah kiblat Mesjid Agung. Sistem massanya dirancang berdasarkan pengolahan struktur sebagai optimalisasi estetika bentuk yang disinergikan dengan sistem ruang yang hemat energi dan efisien dalam pengelolaannya.

a6 Proyek VENICEHYDROMAGNETICSproject, merupakan desain massa bangunan yang fungsinya memproduksi air laguna menjadi electromagnetic gels untuk kemudian disuntikkan ke dalam struktur tanah kota Venice. Tujuannya untuk menaikkan level permukaan tanah Venice terhadap level laguna sebesar 50 cm dalam waktu dua dekade, sehingga diharapkan dapat mencegah banjir tahunan. Bangunan ini juga difungsikan sebagai objek wisata yang mengapung di laguna. Sebagai akibat aktivitas mekanik di dalamnya, posisinya timbul tenggelam.

a5Selanjutnya kaidah arsitektur dalam kajian kawasan, direpresentasikan melalui proyek SITUHIANG-NIRUDDHA dan LEMBANGNePlusUltra. Karya SITUHIANG-NIRUDDHA lebih merupakan rancangan fisik dan sistem non fisik kota Bandung di masa depan. Kota Bandung yang ada sekarang ini direduksi wilayahnya, sehingga hanya seluas wilayah optimal daya tampung geologisnya yang meliputi Bandung Utara, sebagian Bandung Timur dan Barat. Sisanya dijadikan green belt area yang menyatukan kota lama Bandung dengan kota baru yang disebut SituHiang-Niruddha. SituHiang- Niruddha terletak di atas danau hasil cekungan Bandung (Bandung basin), yang fungsinya adalah sebagai danau PLTA untuk seluruh pulau Jawa. SituHiang-Niruddha terdiri dari kelompok cluster kota-kota mandiri yang sistem sirkulasi transportasinya dapat ditempuh dalam waktu singkat oleh para pejalan kaki dengan minimalisasi penggunaan kendaraan bermotor yang minimal. Rancangannya merupakan pengembangan konsep ecoarchitecture dan mempergunakan prinsip-prinsip aerodinamika guna memaksimalkan kualitas fisika bangunan dan sistem struktur konstruksinya.
 
a3Karya lainnya yaitu LEMBANG:NePlusUltra, adalah perancangan pabrik daur ulang sampah Bandung. Sampah akan didaur ulang menjadi tiga produk yang bernilai ekonomi: bio-energi, kertas dan bijih plastik. Pabrik ini berlokasi di daerah wisata terkenal Lembang, Bandung. Proyek ini bertujuan untuk mewujudkan pabrik yang bisa mendaur ulang sampah seluruh kota dengan sistem yang ramah lingkungan dan rancangan fisiknya menarik untuk dikunjungi karena menawarkan wisata keluarga yang bernilai edukatif.

Setelah memahami paparan karya-karya Sarah dan timnya, kita patut berbangga bahwa ada sekelompok profesi kreatif yang peduli terhadap nasib masa depan sebuah kota. Bila karya-karya yang dijabarkan tersebut bersandar pada realita, maka sepatutnyalah didukung penuh oleh seluruh profesi desain dan orang-orang kreatif. Keterlibatan dari semua lini tersebut sangat penting untuk menghasilkan karya perancangan yang bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.

Yuli Andyono

Sumber : Sarah M.A.Ginting, Yuswadi Saliya, Agung Hujatnikajennong dan Selasar Sunaryo art space:heteroARSITEKTUR catalogue
Foto dan images : Sarah Ginting Architects

 
< Prev   Next >