Sebuah konsep hetero arsitektur (arsitektur yang berbeda)
diperkenalkan oleh seorang arsitek Indonesia muda dan berbakat. Belum lama ini,
ia dan rekan-rekan seprofesi serta rekan-rekan lintas profesi seperti para
penata ruang, penata artistik, penata cahaya dan pakar animasi, musisi dan juga
para seniman, berkolaborasi menggelar karya-karya eksperimental mereka yang
menggugah komunitas Bandung bahkan gaungnya mencapai Jakarta.
Patut kita acungkan jempol upaya Sarah dan kawan-kawannya
ini untuk mengkomunikasikan metode arsitektur melalui visualisasi yang
mendorong sekaligus membatasi penggunaan teknologi mutakhir. Cara ini diterapkan
sebagai uji coba pada proyek-proyek kawasan yang berupa konsep keruangan. Diantara
presentasi proyek-proyek tersebut terlihat adanya upaya memadukan unsur-unsur
kemanusiaan dan unsure sejarah budaya dalam suatu tindakan yang melompati
batas-batas konvensional.
Dalam gelar karya tersebut, terlihat adanya sebuah tamasya
arsitektur urban eksperimental yang bias dikatakan menjadi bagian pencerahan
bagi para arsitek. Kegiatan ini termasuk upaya kreatif yang disertai energi
tanpa batas dan bermodalkan imajinasi. Untuk pemahaman yang lebih intens, gagasan
yang dicanangkan melibatkan unsur kesenian yang tinggi, dan melibatkan seluruh
indrawi, melalui alat peraga video, sound performance, instalasi tapak dan
tampilan objek-objek baik secara mikro maupun secara makro.
Objek yang dijadikan proyek eksperimental Sarah dan
kawan-kawan, terbagi ke dalam tiga kaidah arsitektur yaitu arsitektur dalam
kajian ruang, arsitektur dalam kajian massa dan arsitektur dalam kajian kawasan.
Ketiganya membahas ruang sebagai sajian sosial budaya. Berikut paparan konsep
proyek eksperimental yang diambil langsung dari sumbernya.
Arsitektur dalam kajian ruang ditampilkan dalam dua objek
yang dinamakan PHANTASMAGORIA[3rd]dan DKCHINGonTELLY. PHANTASMAGORIA[3rd]
adalah sebuah karya yang mengulas proses pemaknaan keberadaan ruang yaitu
ketika intuisi pikiran mulai bergerak secara impulsif dan dipengaruhi a priori,
sehingga ruang didefinisikan secara murni berupa skema batasan jarak Hasilnya
seperti citra (image) tiga dimensi yang membentuk
proses penguraian komponen ruang, bidang, garis dan titik. Sebuah jaringan persepsi
melalui pendekatan iconography inilah yang menghasilkan ruang dalam bentuk
abstrak.
Objek kedua, DKCHINGonTELLY berupa film animasi bisu yang menggambarkan
simbol-simbol begerak hasil dari
terjemahan teori arsitektur yang ditulis DK Ching pada bukunya yang berjudul Shape
and Form. Teori tersebut menggambarkan bahwa pemaknaan atas ruang arsitektur
berikut elemennya dipengaruhi persepsi pribadi. Padahal arsitektur tidak lain
adalah sebuah “tata bahasa” yang bersifat universal. Oleh sebab itulah karya
ini menerjemahkan teori arsitektur yang abstrak dalam adegan yang menggambarkan
secara populer aktivitas sehari-hari. Keseharian manusia dilihat sebagai
visualisasi pemahaman arsitektur. Animasi yang berdurasi lima menit ini
ditampilkan dalam tiga layar yang masing-masing mewakili masyarakat tertentu
dalam tiga golongan yaitu kelas atas, kelas menengah dan bawah. Secara grafis,
karya ini menampilkan visualisasi karakter dalam golongan tersebut dalam
tampilan dua dimensi wayang, distorsi skala dan teknik kolase.
Kemudian objek arsitektur yang dibahas dalam kajian massa,
menampilkan proyek ALUN2BANDUNG:anENLIVENMENTdanVENICEHYDROMAGNETICSproject. Objek
ALUN2BANDUNG:anENLIVENMENT, adalah sebuah proyek revitalisasi kawasan Bandung city
centre yang diwujudkan melalui perancangan yang menawarkan ergonomi para
pejalan kaki dan mempertinggi aksesibilitas kendaraan ke dalam kawasan. Proyek
ini merupakan desain terminal, pusat perbelanjaan dan susunan lanskap
alun-alun. Konsepnya bertujuan untuk menghidupkan kembali kenyamanan publik
dalam aktivitas sosial mereka di ruang terbuka. Aktivitas yang beragam tersebut
diupayakan terpadu antara posisi massa terhadap sumbu Utara-Selatan Alun-alun
dan sumbu atau arah kiblat Mesjid Agung. Sistem massanya dirancang berdasarkan
pengolahan struktur sebagai optimalisasi estetika bentuk yang disinergikan
dengan sistem ruang yang hemat energi dan efisien dalam pengelolaannya.
Proyek VENICEHYDROMAGNETICSproject, merupakan desain massa
bangunan yang fungsinya memproduksi air laguna menjadi electromagnetic gels
untuk kemudian disuntikkan ke dalam struktur tanah kota Venice. Tujuannya untuk
menaikkan level permukaan tanah Venice terhadap level laguna sebesar 50 cm
dalam waktu dua dekade, sehingga diharapkan dapat mencegah banjir tahunan. Bangunan
ini juga difungsikan sebagai objek wisata yang mengapung di laguna. Sebagai
akibat aktivitas mekanik di dalamnya, posisinya timbul tenggelam.
Selanjutnya kaidah arsitektur dalam kajian kawasan,
direpresentasikan melalui proyek SITUHIANG-NIRUDDHA dan LEMBANGNePlusUltra. Karya
SITUHIANG-NIRUDDHA lebih merupakan rancangan fisik dan sistem non fisik kota
Bandung di masa depan. Kota Bandung yang ada sekarang ini direduksi wilayahnya,
sehingga hanya seluas wilayah optimal daya tampung geologisnya yang meliputi
Bandung Utara, sebagian Bandung Timur dan Barat. Sisanya dijadikan green
belt area yang menyatukan kota lama Bandung dengan kota baru yang disebut
SituHiang-Niruddha. SituHiang- Niruddha terletak di atas danau hasil cekungan
Bandung (Bandung basin), yang fungsinya adalah sebagai danau PLTA untuk seluruh
pulau Jawa. SituHiang-Niruddha terdiri dari kelompok cluster kota-kota mandiri
yang sistem sirkulasi transportasinya dapat ditempuh dalam waktu singkat oleh
para pejalan kaki dengan minimalisasi penggunaan kendaraan bermotor yang
minimal. Rancangannya merupakan pengembangan konsep ecoarchitecture dan
mempergunakan prinsip-prinsip aerodinamika guna memaksimalkan kualitas fisika
bangunan dan sistem struktur konstruksinya.
Karya lainnya yaitu LEMBANG:NePlusUltra, adalah perancangan
pabrik daur ulang sampah Bandung. Sampah akan didaur ulang menjadi tiga produk
yang bernilai ekonomi: bio-energi, kertas dan bijih plastik. Pabrik ini
berlokasi di daerah wisata terkenal Lembang, Bandung. Proyek ini bertujuan
untuk mewujudkan pabrik yang bisa mendaur ulang sampah seluruh kota dengan
sistem yang ramah lingkungan dan rancangan fisiknya menarik untuk dikunjungi
karena menawarkan wisata keluarga yang bernilai edukatif.
Setelah memahami paparan karya-karya Sarah dan timnya, kita
patut berbangga bahwa ada sekelompok profesi kreatif yang peduli terhadap nasib
masa depan sebuah kota. Bila karya-karya yang dijabarkan tersebut bersandar
pada realita, maka sepatutnyalah didukung penuh oleh seluruh profesi desain dan
orang-orang kreatif. Keterlibatan dari semua lini tersebut sangat penting untuk
menghasilkan karya perancangan yang bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.
Yuli Andyono
Sumber :
Sarah M.A.Ginting, Yuswadi Saliya, Agung Hujatnikajennong dan Selasar Sunaryo art
space:heteroARSITEKTUR
catalogue
Foto dan images :
Sarah Ginting Architects
|