|
Selalu ada rasa penasaran ketika seorang arsitek merancang
dan membangun rumahnya sendiri. Rasa penasaran ini wajar saja karena harapan masyarakat
terhadap karya arsitek terlanjur tinggi dan mengharapkan bahwa hasilnya pasti
bagus, unik dan nyaman.
Salah satu kejujuran dalam berekspresi adalah kosistensi.
Ungkapan inilah yang tertuang dalam karya Wiling Ardian, arsitek muda yang
berkesempatan mewujudkan impiannya untuk membangun rumah miliknya ini. Hal ini
tidak berlebihan karena tidak mudah meramu berbagai kepentingan yang beragam
yaitu antara selera, estetika, biaya dan harapan masyarakat. “Buat kami berdua,
perwujudan rumah ini lebih dari sekadar sebuah pencapaian dari proses kehidupan
kami. Namun, seperti umumnya rumah seorang arsitek juga dituntut karya ini
seolah-olah menjadi show room “papar
Wiling. Kami sangat terkesan ketika kami menemukan bangunan seluas 300 m2, yang
dibangunan di atas tanah seluas 240 m2 ini.
Bangunan yang menjulang dan memakai atap dengan bentuk setengah
pelana yang dimodifikasi terlihat berbeda dengan rumah di sekitarnya. Sepintas
terlihat bahwa bangunan ini seolah olah terbagi dua yang ditandai dengan garis
dinding yang tegas dan menerus dari atap hingga ke lantai satu. Pemakaian elemen
batu alam dan iron stripe, dengan cara menyusunya secara horisontal merupakan
keputusan cerdas agar kesan vertikal dari hunian ini dapat dikurangi. Tidak
tampak bukaan dibagian ini, kecuali di area bawah dan di lantai atas berupa kaca
mati dibawah. Kondisi ini semakin menggelitik tim Griya Asri menyidik lebih
dalam lag apa yang ada dibalik “wajah” bangunan ini.
Melalui pintu masuk, yang sengaja dibuat menyeberang lahan
bangunan ini, kami menemukan sebuah ruang keluarga yang cukup luas. Ruang ini bergaya
minimalis, menerapkan langit-langit gantung (drop ceiling) dengan pencahayaan
tidak langsung yang memberikan variasi sensasi berbeda. Ruangan ini dapat juga
disebut sebagai ruang pembagi karena di ruang ini terdapat tangga menuju ke lantai
dua. Menerus ke arah dalam, dibatasi partisi yang tembus pandang terdapat ruang
makan yang terasa sangat lega. Hal ini dimungkinkan karena ruang makan
berbatasan dengan pintu dan jendela kaca yang besar ke arah taman belakang sehingga
kesan yang timbul sangat luas.
Ditambah lagi adanya void tepat di atas area makan dengan
ketinggian langit-langit sampai 6m, menambah sensasi yang merupakan klimaks
dari hunian ini. Area ini cenderung bergaya retro, tren yang saat ini digandrungi
pasangan muda. Ternyata ”kejutan” yang kami rasakan belum berakhir. Ketika kami
melangkah ke lantai dua, terasa suasana berubah menjadi lebih bersifat pribadi. Dilantai ini memang terdapat deretan kamar kamar
tidur yaitu sebuah ruang tidur utama dan dua kamar tidur anak. Hubungan
antarruang dilantai ini diikat oleh void yang tembus dari ruang makan di bawahnya. Dari void ini, kita dapat dengan leluasa
menikmati halaman belakang melalui bukaan besar di area ruangan makan.
Saat berkesempatan untuk melongok ke kamar tidur utama
pasangan ini, kami mendapatkan ”kehangatan” dan sensasi yang optimal. Lantai
ruang tidur ini mempergunakan lantai parket yang terasa alami dan ”hangat”. Rahasia
penampilan muka bangunan ini terbuka ketika dengan jelas kami mengamati tiap
sudut kamar ini. Kamar tidur utama ini dibuat dengan sistem loft yaitu dengan
membuat mezanin dan void. Akibatnya kamar ini terasa sangat luas. Lantai mezanin
dijadikan sebagai ruangan kerja dengan jendela kaca mati yang terlihat dari
muka bangunan, suatu solusi cerdas memanfaatkan ruang di bawah atap. Di kamar
tidur utama terdapat bukaan yang menghadap ke muka. Karena bangunan ini
menghadap timur - barat maka cahaya matahari terasa kuat mengenai area terbuka
ini. Untuk meredam ahaya matahari ini dipasang iron stripe tepat didaerah
bukaan ini, sekaligus sebagai efek tampilan bangunan.
Terasa sekali, bahwa setiap jengkal rumah ini direncanakan
dengan matang dan sangat detail. Urutan herarki dari fungsi antarruangnya dipikirkan
dengan matang. Bukaan di hunian ini menjamin sirkulasi udara yang lancar dan
pencahayaan alami yang maksimal. Harapan masyarakat terhadap ekspresi rumah yang unik dan nyaman
karya seorang arsitek terjawab sudah.
Lokasi : Kediaman keluarga Willing Ardian di Meruya, Jakarta
Barat
Konsultan arsitektur dan interior : Willing Ardian dari
Portfolio
Fotografer : Ahkamul Hakim
Pengarah gaya : Imelda Anwar
|